Pernah di Rumah Amalia seorang Ibu bertutur tentang ketulusan hati suaminya. Kehidupannya selama ini dikatakan mengalir dengan mudah. Dirinya bekerja diperusahaan swasta nasional yang bonafit dengan posisi jabatan yang cukup lumayan karena posisi inilah ia sering melakukan perjalanan keluar kota. Dalam setiap bulan bisa dua atau tiga kali penerbangan dan setiap bepergian bisa tiga hari. Praktis suami dan anak ditinggalkannya sehingga bagi suami dan anaknya tidak pernah mempermasalahkan aktifitas kerjanya. Selama lima tahun perkawinan, ia hampir tidak pernah melayani suami dengan menyediakan air putih atau teh hangat, mempersiapkan baju kerja suami namun suaminya tidak pernah memprotes, dia terbiasa menyiapkan semuanya sendiri. Kesabaran & pengertian suami inilah yang malah membuat ia semakin seenaknya. Setiap minggu senantiasa menunjukkan agenda kegiatannya yang padat dan meminta suami mengurus segala keperluan rumah tangga, pernah ia ditegur oleh suami, 'Mama kalo nyuruh ama ayah kok kayak nyuruh ama bawahan ya?'
Artikel


Lagi-lagi soal kematian
Seorang muslim tua Amerika tinggal di sebuah perkebunan/area di sebelah timur Pegunungan
Limpahan puji kehadirat Allah, Maha Raja langit dan bumi, Maha Penguasa tunggal dan abadi, Maha melimpahkan keluhuran sepanjang waktu dan zaman, Maha menyambut hamba-hamba-Nya dengan sambutan luhur di setiap tahunnya dengan bulan Ramadhan untuk ummat sayyidina Muhammad shallallahu 'alaihi wasallam, selamat datang para tamu Ramadhan. Aku dan kalian adalah tamu Ramadhan, tamu Sang pemilik Ramadhan, Allah subhanahu wata'ala Yang menjadikan Ramadhan sebagai anugerah yang mengunjungi kita setiap tahunnya, anugerah cinta Allah, anugerah rahmat Allah, anugerah kasih sayang Allah, anugerah kelembutan Allah, panggilan keluhuran kepadaku dan kalian dan segenap hamba-hamba-Nya untuk mencapai kebahagiaan dunia dan akhirat.