Kategori: Berita Dibuat pada: Sabtu, 09 April 2011 13:39 Ditulis oleh: admin Hits: 74
Suasana senyap menyelimuti Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 20 yang terletak di Cilandak, Jakarta Selatan pada Jumat (18/3) kemarin. Maklum saja, minggu itu seluruh siswa kelas satu dan dua diliburkan. Sementara murid-murid kelas tiga baru saja menyelesaikan serangkaian ujian. Meski demikian ada kesibukan lain di salah satu ruangan. Di depan ruangan tersebut terpasang label besar "Bank Mini Syariah".
Bagi siapa saja yang bukan warga sekolah itu pasti membayangkan bahwa tempat itu hanyalah sebuah ruang peraga di mana siswa bisa belajar tentang teori-teori perbankan syariah. Namun prediksi itu akan meleset jauh begitu pintu bernuansa abu-abu terbuka dan kaki menjejak di sana. Desain interior dikonstruksikan benar-benar menyerupai bank-bank lainnya. Ada meja tempat menaruh berbagai jenis slip transaksi, bagian customer service dan tentu teller yang siap melayani pelanggan. Slip transaksi dan buku tabungan pun tak beda dengan yang dimiliki bank-bank lain.
Ternyata, Bank Mini Syariah SMK Negeri 20 bukan sekadar alat peraga atau laboratorium bagi para siswa. Namun bank tersebut benar-benar dikelola secara profesional. Teknologi dan peralatan pendukung yang dipakai di sana pun memenuhi standar bank. Mulai dari mesin penghitung uang, pencatatan transaksi berbasis komputer, hingga detektor uang sudah tersedia.
Dengan kehadiran bank ini, seluruh kegiatan keuangan sekolah dipusatkan di sana, mulai dari pembayaran uang sekolah para siswa hingga pembayaran gaji guru serta karyawan. Selain memiliki fitur layanan tabungan, bank ini juga menyediakan jasa pembayaran listrik, telepon, dan internet. Saat ini, Bank Mini Syariah ini sudah memiliki aset mencapai Rp. 1 miliar. Sekitar Rp. 500 juta berupa tabungan yang dihimpun dari dana para guru, karyawan dan siswa.
Seluruh operasional bank tersebut dikelola sendiri tanpa ada kerja sama dengan pihak lain. Direktur Bank Mini Syariah Fitriah mengatakan, beberapa bank memang pernah menawarkan kerja sama. Namun tawaran itu ditolak karena kerja sama ini bisa mengurangi pendapatan.
Meski berkembang pesat, namun laba besar bukan tujuan utama. Yang terpenting, semua warga sekolah bisa memanfaatkan bank tersebut untuk berbagai kebutuhan. Siswa pun bisa mempraktikkan pelajaran yang didapat dari dalam kelas. Karena setiap harinya, tiga siswa diperbantukan mengoperasikan bank. Satu siswa bertugas sebagai customer service sementara dua siswa lainnya berpraktik sebagai teller.
"Di sini sifatnya tidak profit oriented, namun lebih sebagai media pembelajaran dan memberikan pelayanan bagi warga SMK Negeri 20 baik bagi siswa, guru dan karyawan, kata Fitirah kepada Jurnal Nasional, Jumat (18/3).
Para siswa juga senang dengan adanya bank mini syariah di sekolahnya. Karena mereka jadi gemar menabung tanpa perlu sungkan uang yang mereka tabung tak seberapa besar.
"Siswa kan terbatas kemampuan menabungnya, jadi sungkan ke bank. Namun di sini, mereka cukup dengan Rp. 10.000 sudah bisa kami terima," kata guru mata pelajaran akuntansi itu.
(Sumber: Sisipan Harian Jurnal Nasional [Jumat, 25 Maret 2011] oleh Rizky Andriati Pohan)