Kategori: Berita Dibuat pada: Sabtu, 09 April 2011 13:35 Ditulis oleh: admin Hits: 32
Sejak 2002, SMK Negeri 20 konsisten melakukan kaderisasi sumber daya manusia perbankan syariah. Di tengah krisis sumber daya manusia perbankan syariah di Tanah Air, ada kabar gembira dari Jalan Melati, Cilandak, Jakarta Selatan. Di gedung Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 20 terjadilah proses kaderisasi sumber daya manusia perbankan syariah yang dilakukan kepada generasi berusia belasan tahun. Inilah sekolah pertama di Indonesia yang memiliki jurusan perbankan syariah.
Jurusan itu mulai tersedia di SMK Negeri 20 sejak tahun 2002. Program ini lahir karena maraknya berbagai bisnis ekonomi syariah, mulai dari Baitul Maal Wa Tamwil (BMT) hingga bank umum syariah.. "Berpikir dari situ, kenapa kita tidak persiapkan dari level SMK. Kalau kita sudah supply dari tingkat menengah, tidak akan ada kesenjangan kebutuhan yang terlampau besar," kata Ketua Musyawarah Guru Mata Pelajaran Perbankan Syariah Yuli Rahayu.
Pihak sekolah lalu melakukan riset kecil-kecilan kepada sejumlah siswa SMP untuk mengetahui ketertarikan terhadap jurusan perbankan syariah. "Ternyata mereka cukup berminat," kata Yuli. Tak lama pihak sekolah pun memberanikan diri mengajukan proposal pembukaan jurusan perbankan syariah ke Dinas Pendidikan DKI Jakarta.
Pihak sekolah mendapat lampu hijau. Meski demikian jalan yang dilalui para penggagas masih panjang. Karena belum pernah ada sekolah yang memiliki perbankan syariah, mereka harus berjuang memulai dari nol. Pihak sekolah mau tidak mau harus berkiblat kepada universitas dalam membuat kurikulum baru yang kemudian disesuaikan dengan kebutuhan siswa menengah. Sampai sekarang, jurusan ini masih mendapatkan bimbingan teknis dari Dinas Pendidikan secara minimal. "Jadi kami lahir dan besar sendiri tanpa ada bimbingan dari dinas," katanya lagi.
Kehadiran jurusan perbankan syariah mendapat respons tinggi. Terbukti, peminatnya terus meningkat dari tahun ke tahun. Siswanya tak hanya berasal dari lingkungan Cilandak, malah ada yang berasal dari Bekasi. Tak hanya itu banyak sekolah kejuruan lain yang mengekor. Beberapa di antara sekolah itu bahkan melakukan studi banding ke sana.
Meski sudah berjalan hampir sembilan tahun, berbagai masalah masih di depan mata. Belum semua alumni dapat terserap di industri perbankan syariah dalam jumlah besar. Ijazah SMA saja tidak banyak dilirik industri. Padahal dengan proses belajar-mengajar selama tiga tahun, para lulusan SMK Negeri 20 sudah memiliki pengetahuan yang memadai. Wawasan kesyariahan para alumnus pun berani diadu dengan lulusan sarjana yang hanya mengikuti pelatihan bank syariah dalam beberapa minggu.
"Kalau kita mau fair, kami lebih berani jamin-lah. Kami yang tiga tahun lebih bagus pemahaman tentang ekonomi syariah," katanya lagi.
Guna menyiasati persoalan ini, dalam waktu dekat SMK Negeri 20 akan mengeluarkan program perbankan syariah plus. Program ini memungkinan siswa jurusan perbankan syariah memiliki ijazah setara Diploma 1. Sekolah akan menambahkan kurikulum perguruan tinggi di akhir kegiatan sekolah.
Ketua Kompetensi Keahlian Perbankan Syariah SMK Negeri 20 Arsudin mengatakan, program ini diharapkan dapat menambah amunisi bagi para siswa agar bisa lebih kompetitif di dunia industri. Karen beberapa bank besar masih menetapkan ijazah diploma 3 sebagai salah satu syarat untuk bekerja. "Jadi siswa nantinya memiliki sertifikat ganda yaitu dari sekolah dan institusi pasangan kita yang menyetarakan dengan D.1," katanya.
(Sumber: Sisipan Harian Jurnal Nasional [Jumat, 25 Maret 2011] oleh Rizky Andriati Pohan)